Perajin Batu pada Bali Rasakan Manfaat Proyek Pemberdayaan BRI

Tipsbisniskugroup.my.id –

Jakarta  – Deru mesin grinder lalu alat-alat saling bertumbuk sudah ada tak asing lagi dalam telinga warga Banjar Belong, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Wilayah Gianyar Bali.

Ya, mayoritas penduduk dalam desa tersebut berprofesi sebagai perajin batu paras taro. Para perajin yang disebutkan bergabung pada sebuah kelompok usaha yang mana dikenal dengan nama Klaster Usaha Paras Taro.

Banjar Belong sendiri memang benar dikenal sebagai salah satu tempat yang menyimpan prospek besar pada hal kerajinan paras taro.

Di klaster perniagaan inilah, I Wayan Parnata bertahun-tahun berpartisipasi sebagai ketua yang digunakan membantu berbagai kebutuhan, demi kemajuan usaha yang sejumlah dijalankan warga setempat. Pendukung pun hadir dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI yang dimaksud dirasakan sangat membantu kemajuan usaha para anggota di memperluas bisnisnya.

Dukungan dari BRI sendiri terdiri dari akses layanan keuangan, juga pembinaan, hingga bantuan sarana kemudian prasarana yang dimaksud menunjang kegiatan para perajin dalam klaster usaha.

Di melawan lahan milik pribadi, keseharian Wayan bergelut dengan mesin grinder dan juga berbagai peralatan untuk menyelesaikan pesanan pelinggih atau produk-produk kerajinan lainnya dari pelanggan.

“Awal mulanya kami menyebabkan kerajinan pelinggih di dalam Bali itu sekitar tahun 2000-an. Lalu kerajinan ini mulai menjamur di dalam tahun 2010,” ungkap Wayan, Hari Sabtu (2/12/2023).

Ia bercerita bahwa pada waktu awal menjalankan usaha, kesulitan yang dimaksud dihadapi adalah pada pemilihan material. “Kami mengalami kesulitan akibat harus mencocokkan material yang dimaksud bisa jadi dipakai. Jadi banyak mencoba-coba kalau bahannya ini hasilnya seperti apa. Lalu sekitar tahun 2010 sudah ada ketemu material yang cocok yaitu tanah liat hitam yang dimaksud kualitasnya ternyata lebih besar baik. Akhirnya kita pakai materi itu sampai sekarang,” jelas Wayan.

Klaster Usaha Paras Taro menciptakan berbagai item kerajinan yang dimaksud kebanyakan memang benar berhubungan dengan tempat peribadatan penduduk Hindu. Beberapa produk-produk mereka itu seperti candi, angkul-angkul, tembok, hingga pelinggih.

Nilai tambah dari klaster perniagaan ini adalah barang yang tersebut dihasilkan bisa saja menggunakan berbagai motif sesuai dengan permintaan pembeli.

Untuk pemasarannya sendiri, ternyata tiada semata-mata sebatas pada wilayah Bali saja. “Pemasaran kalau saya sendiri sudah ada sampai Jakarta, Bogor, hingga Lombok. Kalau teman-teman ada yang mana sampai Lampung dan juga kota pada Sumatera lainnya,” ungkap Wayan.

Wayan menambahkan bahwa klaster usahanya dikenal dari mulut ke mulut. Selain itu, berbagai juga anggota yang dimaksud melakukan pemasaran di dalam media sosial lalu miliki toko online sehingga sanggup menjangkau bursa yang tersebut lebih banyak luas.

Dukungan BRI untuk Kembangkan Usaha

Klaster Usaha Paras Taro adalah satu dari sekian banyak kelompok bidang usaha UMKM yang mendapatkan pendampingan dari BRI. Berawal dari keperluan modal, Wayan dan juga klaster usaha yang dimaksud mendapatkan pendampingan usaha.

“Pendampingan BRI dimulai sekitar tahun 2018. Awalnya itu saya kan terkendala modal bisnis untuk memperluas kegiatan bisnis saya, lalu ada Mantri BRI yang digunakan mengajukan perniagaan saya ke Rencana Klaster Usaha,” ungkap Wayan.

Adapun bantuan yang mana diberikan oleh BRI terdiri dari pembinaan dan juga bantuan sarana kemudian prasarana yang tersebut menunjang kegiatan para perajin pada klaster bisnis disana. Wayan pun mengakui apabila sekarang klaster usahanya telah jarak jauh lebih banyak berkembang. Jika dulu pada awal berdiri hanya saja 10 orang, sekarang anggotanya sudah ada jarak jauh lebih lanjut banyak. Bahkan, sekitar 50% warga Banjar Belong menjalankan perniagaan ini.

“Dampaknya sangat membantu perekonomian warga di area Desa Banjar Belong. Mungkin sejak 2010, sudah ada ada peningkatan penghasilan sekitar 75%. Memang kalau perajin itu penghasilannya tidaklah tetap saja jumlahnya, tapi bisa saja rutin dapat setiap bulan. Perajin itu sendiri kan juga musiman. Kalau pada Bali ada yang digunakan momen yang namanya Purnama Kadasa kemudian Purnama Kapat, itu biasanya mulai banyak pesanan pelinggih jadi kita sanggup mendapatkan penghasilan lebih,” jelasnya.

Menjalankan peran sebagai ketua klaster sejak awal berdiri, Wayan pun mempunyai harapan agar usahanya bisa jadi semakin berkembang. “Harapannya adalah klaster usaha ini semakin progresif kemudian juga semoga bisa jadi mendapatkan permodalan dengan agunan rendah dari BRI, jadi mampu membantu memperluas usaha,” tutupnya.

BRI lewat acara Klaster Usaha ‘Klasterkuhidupku’ berikrar untuk selalu memberikan pendampingan maupun pemberdayaan, sehingga pelaku UMKM mampu untuk tambahan tangguh dan juga naik kelas. Dalam kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari memberikan pernyataannya.

“Tidak semata-mata sebagai modal bisnis saja, tapi juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan usaha juga kegiatan pemberdayaan lainnya sehingga UMKM dapat terus tumbuh. Kisah Para Perajin Batu Paras Taro diharapkan mampu jadi kisah inspiratif yang mampu direplika oleh pelaku perniagaan lainnya,” tambahnya.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa inisiatif Klaster Usaha ‘Klasterku Hidupku’ menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya. Lewat berbagai kegiatan pendampingan tersebut, pelaku UMKM sanggup mendapatkan kesempatan mengembangkan produknya.

“Kami berazam untuk terus memberikan pendampingan, edukasi serta membantu pelaku UMKM, tiada belaka merupakan modal bisnis semata tapi juga melalui pelatihan-pelatihan bidang usaha serta inisiatif pemberdayaan lainnya sehingga UMKM dapat terus bertambah kemudian semakin tangguh,” jelas Supari.

Artikel Selanjutnya Klaster Usaha Binaan BRI Ini adalah Terwujud Berdayakan Lansia

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *